muhammadhabibisiregar.com – Kesabaran merupakan salah satu hal yang tersulit di dalam kehidupan manusia, karena kesabaran menyangkut respons penerimaan terhadap suatu peristiwa yang tidak mengenakkan terjadi kepada dirinya. Kesabaran merupakan gambaran dari sangka baik yang lahir dari seorang hamba terhadap keputusan dari Allah kepada dirinya. Kesabaran juga refleksi dari ketidakberdayaan dirinya dalam menghadapi realita kehidupan yang berada di luar kendali dirinya. Karena hampir semua kejadian di dalam hidup ini berada di luar kontrol manusia walaupun terkadang mereka telah merencanakan secara detail tetapi hasil yang diharapkan bisa melenceng.
Kesabaran merupakan wujud keimanan seseorang karena mencerminkan gambaran siapa sebenarnya dirinya yang biasanya diwujudkan dengan kemampuan untuk mengendalikan dirinya di saat ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi. Seorang Nabi Musa juga diuji Allah ketika diperintahkan untuk bertemu dengan seseorang serta mengambil pelajaran dari pertemuan tersebut. Dalam dialektika antara Nabi Musa dengan seseorang (dalam sejarah dikenal dengan Nabi Khaidir) diterangkan ada tiga peristiwa utama yang terjadi dalam pertemuan mereka.
Pertama, sisi keluhuran budi yang dimiliki oleh seorang manusia tentunya tidak bisa menerima suatu kebaikan diberikan oleh pemilik kapal yang telah memberi tumpangan dengan kapalnya kemudian kapal tersebut dirusak didepan mata. Melihat hal tersebut lalu Nabi Musa mempertanyakan perbuatan Nabi Khaidir yang merusak kapal yang pemiliknya sudah memberi tumpangan kepada mereka. Lalu Nabi Musa diperingatkan agar tidak melakukan intrupsi sebelum dijelaskan nantinya oleh Nabi Khaidir sesuai dengan perjanjian mereka diawal. Lalu mereka berjalan menelusuri suatu tempat yang dijumpai ada beberapa anak sedang bermain, kemudian tanpa sebab Nabi Khidir membunuh salah seorang anak hingga meninggal dunia.
Hal itu membuat Nabi musa terperanjat dengan perbuatan tersebut sehingga mempertanyakan perihal pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khaidir tersebut. Seperti di awal Nabi Khadir memperingatkan Nabi Musa untuk tidak mempertanyakan tenatang apa yang dilakukannya sebelum diterangkan alasan di balik itu semua. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan setelah Nabi Musa berjanji bahwa itu terakhir kalinya untuk mempertanyakan tenatang apa yang diperbuat oleh Nabi Khaidir hingga diterangkan sebab kenapa perbuatan itu dilakukan. Ketika mereka digambarkan melakukan perjalanan yang cukup jauh sehingga rasa haus dan lapar mulai menghinggapi diri Nabi Musa. Lalu diceritakan bagaimana acuhnya setiap kampung yang mereka lalui bahkan tidak ada yang mau memberikan sambutan yang layak bagi orang asing yang memasuki pemukiman mereka.
Pada saat tersebut Nabi Khaidir melihat ada satu pagar yang hampir roboh lalu memintah Nabi Musa untuk membantunya memperbaiki hingga pagar tersebut itu kokoh kembali. Setelah itu Nabi Khidir tampaknya pergi begitu saja tanpa mau meminta upah atas perbaikan yang mereka lakukan. Nabi Musa lalu bertanya kenapa engkau tidak meminta upah atas perbaikan yang kita lakukan untuk sekedar membeli makanan dan minuman. Lalu Nabi Khaidir mengingatkan kembali tentang perjanjian mereka untuk tidak menyanggah perihal perbuatan yang akan dilakukan sampai diterangkan terlebih dahulu.
Ini merupakan cuplikan dialog yang terakhir diantara mereka, namun sebelum berpisah Nabi Khaidir menerangkan hikmah yang diperoleh dari Allah tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukannya selama dalam perjalanan mereka. Walaupun terkadang tidak manusiawi seperti dalam peristiwa pengrusakan kapal yang mereka tumpangi atau pembunuhan anak kecil yang dianggap belum berdosa. Kemudian peristiwa perbaikan pagar rumah yang hampir roboh setelah menjalani perjalanan jauh yang sangat letih tanpa mau meminta imbalan hanya sekedar untuk mengisi perut yang lapr dan dahaga yang bersangatan.
Al-Qur’an memberikan cuplikan dialog antara dua sosok mulia dengan menerangkan bagaimana hikmah suatu kejadian dalam hidup ini terkadang yang menimpa seseorang itu dianggap tidak adil.
Ketika melakukan suatu kebaikan lalu mendapatkan hasil yang sebaliknya, di sini Allah seakan menjelaskan bahwa jangan terlalu mudah mengambil kesimpulan apalagi sampai buruk sangka terhadap sesuatu yang menimpa dirinya padahal setelah melakukan perbuatan baik. Terkadang banyak diantara manusia yang kurang terima dengan kejadian yang menimpa dirinya yang dianggap tidak sejalan dengan amal kebaikan yang telah dilakukannnya. Artinya, jangan sampai menimbulkan persangkaan negative seakan tidak diperhatikan Allah apa hal yang telah dilakukannya.
Dari ilustrasi di atas digambarkan bahwa Allah sebenarnya kerugian yang sedikit itu terjadi kepada dirinya untuk menghindari dari maslah yang lebih besar yang bisa datang bila penderitaan kecil (little pain) itu tidak terjadi. Peristiwa pengrusakan kapal ini merupakan ibrah dari sekian banyak profesi maupun perbuatan baik yang dijalankan terkadang menimbulkan kejadian yang tidak diharapkan. Padahal setelah melakukannya dengan benar, kejadian ini bisa menggerus komitmen mereka untuk berbuat baik karena tidak diiringi oleh hasil yang diharapkan malah mendatangkan suatu yang kurang mengenakkan. Di sini Al-Qur’an memberi gambaran bahwasanya kejadian seperti terjadi hanya untuk menyelamatkan dari musibah yang lebih besar.
Setiap manusia pasti mengalami hal seperti di atas ketika telah berusaha untuk melakukan kebaikan ternyata hasilnya tidak diharapkan yang datang. Di sini Allah memberi manusia bagaiman mekanisme kehidupan itu terjadi tidak berdasarkan dari pemahaman ataupun pengamatan ilmu manusia yang sangat terbatas. Hikmah yang Allah beriakn merupakan gambaran bagaimana scenario kehidupan terjadi berkaitan dengan berbagai hal di dalam hidup ini. Karena diri kita merupakan bagian sangat kecil dari entitas mekanisme kehiudpan. Oleh sebab itu, suatu kejadian yang dianggap menyakitkan bagi kita setelah melakukan sesuatu yang dianggap baik namun hasilnya terkadang agak menyakitkan.
Hal itu untuk menyelamatkan diri mereka dari masalah yang lebih besar sehingga sikap sangka baik sangat diperlukan dalam kondisi ini. Karena walaupun muncul sanggahan untuk menerima kejadian tersebut sebagai seorang anak manusia yang lemah, apa yang bisa diperbuatnya untuk merubah semua ini. Sangak baik serta kepasrahan merupakan opsi yang tidak bisa ditwar lagi untuk merespon kejadian seperti ini. Karena faktanya, banyak sekali manusia yang tidak lewat ujian ini sehingga yang terjadi depresi serta menggerutu terhadap nasib yang menimpa dirinya yang lambat laun akan menimbulkan sangak buruk kepada manusia. – by MHS

