muhammadhabibisiregar.com – Pada suatu hari nanti semua manusia akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah atas semua hal yang telah dilakukannya di dalam hidup ini. Untuk diperlukan suatu kesadaran bahwa hidup merupakan kesempatan yang diberikan kepada manusia untuk bisa melakukan yang terbaik.
Alam setelah kehidupan ini disebut dengan alam barzah yang secara kasat mata manusia dikatakan mati atau meninggal. Tetapi dalam teologi Islam mereka itu sedang dalam alam penantian sebelum memasuki alam akhirat. Oleh sebab itu, dalam kondisi kehidupan dunia yang sementara ini semua menggunakan kesempatan ini untuk melakukan hal yang terbaik. Untuk itu diperlukan suatu langkah yang jitu dalam menggunakan waktu yang sangat terbatas ini, salah satunya dengan menggunakan pola skala prioritas.
Tidak semua orang memiliki target kehidupan yang sama tergantung pada obsesi yang melatarbelakangi dirinya. Ini sangat penting untuk bisa membuka peluang yang bisa digunakan dalam meningkatkan kualitas kehidupan. Dalam konteks Islam salah satu kekuatan sekaligus bisa menjadi titik masalah adalah masalah politik dan teologi kedua masalah ini merupakan persoalan utama yang bisa membangkitkan peradaban umat Islam dan bisa juga menjadi potensi kemunduran seperti yang telah terjadi hingga kini.
Untuk itu diperlukan suatu reformasi pemahaman terhadap dua persoalan di atas, yaitu politik dan teologi. Konsep politik suksesi dalam sejarah Islam ialah dengan mengedepankan “musyawarah” artinya tidak ada patokan baku dalam masalah politik ini terutama dikaitkan pemilihan pemimpin tertinggi di suatu negara. Konsep musyawarah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an memberi gambaran bahwa persoalan politik bersifat tentatif tergantung situasi dan kebutuhan masyarakat ketika itu.
Opsi yang diberikan kepada umat Islam tersebut menjadikan ajaran Islam sangat fleksibel dalam persoalan politik karena na lebih menekankan kemaslahatannya. Inilah yang membuat kajian politik di dalam Islam sangat dinamis karena na bukan hanya dapat meningkatkan daya adaptasi juga konsolidasi segala potensi yang ada untuk mewujudkan kemaslahatan. Untuk mewujudkan kemaslahatan hanya bisa terwujud secara maksimal bila terciptanya instrumen yang memungkinkan mereka yang terbaik menduduki posisi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Oleh sebab itu, hal itu menunjukkan betapa Islam sangat menghargai kompetensi yang dimiliki seseorang sehingga akan tercipta iklim persaingan yang sehat. Ada beberapa mekanisme yang memungkinkan proses seleksi yang akan membuat mereka yang memiliki kompetensi yang menduduki posisi yang dibutuhkan di masyarakat. Ini dapat dimulai dengan memilih pemimpin tertinggi yaitu dengan cara mendorong siapapun yang memiliki potensi yang ingin mengabdikan dirinya untuk memberikan kontribusi terbaik.
Kesempatan seluas-luasnya harus diberikan kepada mereka yang memenuhi persyaratan umum seperti umur yang cukup sesuai persyaratan. Ketika jumlah penduduk yang sedikit akan lebih mudah dalam mengatur mekanisme suksesi. Akan tetapi ketika jumlah penduduk semakin banyak apalagi variasi etnis ataupun agama yang berbeda membuat mekanisme suksesi semakin sulit.
Hal ini disebabkan karena variabel yang terlibat dengan segala kepentingan dan isme yang berbeda yang berpotensi timbulnya potensi konflik yang tinggi. Di sinilah opsi politik di dalam Islam yang lebih mengedepankan musyawarah dalam menentukan format politik yang hendak diambil. Musyawarah yang dimaksud adalah agar tercipta kemaslahatan di dalam masyarakat banyak. – by MHS

